Hotline: 031- 83 100 888, 0821 8983 5555 | E-Mail:

Berita

Minggu, 03 Mei 2009 07:32

Trik dan Tips Transmisi Matik

5 Mei 2009  08:49
OTOMOTIF [tv] Senin, 8 Desember 2008,pukul 22.30 WIB
Trik dan Tips Transmisi Matik

OTOMOTIFNET - OTOMOTIF [tv] kali ini menyajikan sederet tips.  Khususnya menyoal transmisi otomatis atau kadang kerap disebut matik.

Pada dasarnya mobil transmisi manual dan matik sama saja. Keduanya sama-sama menjadikan transmisi atau persneling sebagai penggerak girboks yang menggerakkan ban mobil.

Cuma pembedanya, transmisi matik menggunakan pompa untuk mensuplai oli ke mesin. Dan pompa ini hanya akan berfungsi ketika mesin dalam keadaan hidup.

OTOMOTIF [tv] siap memaparkan bahwa ketika kita menghadapi situasi mobil matik yang kita gunakan di jalan mengalami mogok, ada baiknya mobil tersebut tidak ditarik.

Karena ketika mobil matik mogok dan diderek, maka roda dan girboks akan bekerja secara manual yang otomatis juga turut menggerakkan pompa oli yang dapat berakibat pada kerusakan kendaraan Anda.

Soal jendela informasi mobil terbaru, Daihatsu Sirion akan hadir mengisi segmen  Driven. Mobil tipe citycar Hatchback ini, menggaet mesin VVT-i 1.3 liter.  Dengan tampilan yang aerodinamis dan sporty, mobil kecil gesit itu bersaing dengan produk lainnya lewat keunggulan konsumsi BBM yang ekonomis.

Sesudahnya, masih ada modifikasi VW kodok yang kejatuhan botol bir.  Warna kuning terang dengan siraman air di kap langit-langit membuatnya punya nilai unik.  “Bukan sebuah mobil, tapi mainan,” tutur sang pemilik.

Pendeknya bisa jadi inspirasi.  Dan semuanya dan disaksikan, hanya di OTOMOTIF [tv] minggu ini.

Penulis/Foto: Oka/Ukirsari

Minggu, 03 Mei 2009 07:30

Insentif Mobil Hybrid Tanpa Syarat

Insentif Mobil Hybrid Tanpa Syarat
5 Mei 2009 3:15 pm AZ mobil

oleh : Agus ‘Zoelis’ Triyono

Memperluas pemakaian mobil hybrid bisa menjadi solusi menekan pemakaian bahan bakar. Sudah terbukti bahwa mobil bertenaga kombinasi mesin dan motor listrik (hybrid) jauh lebih hemat BBM dan ramah lingkungan. Bisa dibayangkan jika Indonesia dipenuhi mobil hybrid. Beban subsidi bahan bakar yang ditanggung pemerintah pasti tidak sebesar saat ini.

Sayangnya, solusi ini tidak dipahami mendalam oleh pemerintah kita. Sehingga pemberian fasilitas insentif fiskal buat mobil hybrid hanya dilihat dari sudut pandang yang sempit. Makanya jangan heran jika banderol Toyota Prius yang dijual lewat IU (importer umum) masih selangit (Rp 500 jutaan).

Soal insentif mobil hybrid, pemerintah masih mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu.

Mengacu PP 1/2007 tadi, perusahaan otomotif di dalam negeri yang memproduksi mobil hybrid akan mendapatkan sejumlah fasilitas pajak. Antara lain Pajak Penghasilan (PPh). Sepintas niat pemerintah cukup bijak karena akan mendorong pengembangan mobil hybrid nasional.

Namun melihat fakta dilapangan, tampaknya masih jauh dari harapan. Sebab Toyota sendiri yang telah menjual lebih dari 1 juta unit Prius ke berbagai Negara, basis produksinya masih di Jepang.

Jika pemerintah masih ngotot dengan PP 1/2007 dan produsen mobil hybrid tidak tertarik investasi di Indonesia, maka fenomena mobil hybrid untuk menekan pemakaian BBM sampai kiamat tidak akan terwujud.

Padahal jika niatnya untuk menekan pemakaian BBM, pemerintah bisa mengikuti jejak Amerika. Pemerintah adikuasa tersebut memberikan insentif khusus buat mobil hybrid tanpa syarat. Ratusan ribu Prius terjual di Amerika dan Toyota tetap mengirimnya dari Jepang.

Kesimpulannya, mempertimbangkan isu krisis BBM dan global warming, pilihan pemerintah tinggal satu. Ikuti jejak Amerika. Berikan fasilitas insentif fiskal buat mobil hybrid tanpa syarat.

Minggu, 03 Mei 2009 07:22

Pasar Mobil Bekas 2009

Pasar Mobil Bekas 2009
03 Mei 2009 10:25 am admin mobil

Oleh : Antonius Sulistyo (Reporter OTOMOTIF)

Memasuki awal semester 2009, pasar otomotif tanah air kembali dihadapkan dengan kenaikan harga mobil baru. Secara teori memang hal ini nantinya bakal berkorelasi dengan harga jual kembali di tingkat retail unit bekasnya.

Lantas, bagaimana sesungguhnya peta mobil bekas saat ini? Di bursa mobil bekas (mobkas) terdapat 3 kategori mobil, yang terbagi berdasarkan tingkat perputaran penjualan unitnya. Kategori fast moving (perputaran cepat), seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Suzuki APV Arena dan Honda All New Jazz, memiliki persentase nilai penyusutan (depresiasi) tahun pertama antara 5%-9%.

Kategori middle (perputaran sedang), seperti Toyota All New Vios, Yaris, Honda All New City dan Nissan Grand Livina, depresiasi tahun pertama sekitar 10-20%.

Di luar kedua kategori ini, sudah masuk level slow moving alias tingkat perputaran penjualannya lambat. Sekadar catatan, persentase penyusutan ini hanya diambil dari nilai kendaraannya saja (dari harga On The Road-baru), belum termasuk biaya lainnya macam BBN (Bea Balik Nama) dan administrasi jika sudah jatuh ke tangan orang kedua.

Sebagai ilustrasi, diambil banderol Toyota Avanza G 1.3L manual dengan persentase nilai penyusutan 5%. Awal Desember 2008 lalu banderol barunya masih Rp 131,85 juta (On The Road), namun per Januari 2009 price list barunya naik menjadi Rp 139,45 juta (On The Road). Jika dikalkulasi, depresiasi tahun pertama untuk Avanza tahun 2008 (Rp 131,85 juta) sekitar Rp 6,59 juta. Sementara besarnya penyusutan di tahun pertama untuk Avanza lansiran 2009 (Rp 139,45 juta) sekitar Rp 6,97 juta.

Berdasarkan ilustrasi perhitungan tadi, dapat ditarik garis merah bahwa naiknya banderol mobil baru macam Avanza G 1.3L manual, memengaruhi harga penawaran dari para pedagang di tingkat retail mobkas. Misal Avanza 2008 punya harga pasaran bekas sekitar Rp 125-126 juta. Sementara nilai jual kembali Avanza tahun 2009 dengan tipe sejenis, diprediksi bakal terbentuk di harga Rp 132 jutaan.

Meski begitu menurut Nurfitri Yanuarsyah, kepala cabang Mobil ’88 Kalimalang, Jaktim, penyusutan nilai yang dikenakan untuk Avanza sebagai mobil kategori fast moving ini, berlaku sepanjang masih terdapatnya deretan inden dari calon pembeli Avanza baru. “Selama animo pembeli masih tinggi, harga jual kembalinya juga kuat,” tandas Arsyah sapaannya.

MASA TRANSISI

Meski pemain di bursa mobkas tetap menginginkan mobil-mobil kategori fast moving tetap laris manis, umumnya dari kalangan pedagang di sektor ini menganggap kondisi saat ini masih dalam masa transisi. Artinya, memasuki awal semester 2009 ini, transaksi jual-beli diyakini belum banyak bergerak alias stagnan.

Kondisi ini lantaran dipengaruhi beberapa faktor, seperti daya beli masyarakat umumnya yang masih lemah. Hal itu diamini Nurrasyid, branch manager PT Berlian Abadua Satu (Bendi 21) di Cinere, Depok. “Penjualan memang menurun sejak November 2008 sampai sekarang. Rata-rata penurunan penjualan sekitar 50%, dan berlaku hampir di seluruh level harga mobil,” ungkap Nur, sapaan pria berpostur jangkung ini.

Prinsip yang dipegang pedagang mobkas pada umumnya, sebenarnya lebih mengutamakan kuantitas. Artinya tingkat penjualan lah yang lebih diutamakan. Berdasarkan pedoman ini, mobkas dengan permintaan paling besar yang paling banyak distok oleh mereka. Sementara harga penawaran untuk tahun-tahun yang lebih tua, mulai 2007 ke bawah, tidak banyak bergerak mengikuti kenaikan banderol mobil baru.

Menurut Nur, harga penawaran untuk mobkas tahun 2007 ke bawah, masih sama dengan kondisi sebelumnya di 2008. Artinya pedagang mobkas kini lebih berhati-hati terhadap pasar, demi memperlancar penjualan masing-masing. Meski sudah banyak lembaga leasing yang dapat dimanfaatkan calon pembeli, tetap saja faktor daya beli yang menjadi persoalan.

Kalaupun ada pedagang yang mena­warkan unit seken dengan banderol lebih tinggi dari harga pasaran, bisa jadi itu merupakan kiat ambil untung sesaat. Seperti pernah diungkap Ruslan, juragan Madina Mobilindo di Jl. Margonda Raya, Depok beberapa waktu lalu.

Menurut pentolan paguyuban pedagang mobil di Depok itu, pengaruh kenaikan harga mobil baru tak serta-merta berpengaruh langsung terhadap banderol mobil seken dengan tahun produksi yang sudah punya selisih 2 tahun lebih. “Itu bisa-bisanya para pedagang mobil bekas yang nakal saja. Mereka umumnya mengaitkan kenaikan harga mobil baru kepada calon pembelinya,” kata Ruslan.

Selain daya beli masyarakat yang masih lemah, faktor suku bunga kredit mobkas yang masih tinggi juga sangat memengaruhi penjualan di sektor ini. Misal seorang konsumen hanya memiliki budget untuk membayar uang muka kredit sebesar Rp 20 juta. Sementara mobil incarannya yang seharga Rp 100 jutaan produksi tahun 2007, menuntut pembayaran total DP sekitar Rp 30 jutaan. Alhasil sang konsumen mengurungkan niatnya untuk membeli mobil yang diinginkan, meski bisa membeli secara kredit melalui leasing.

Rp 100 JUTA KE BAWAH

Tak heran jika banyak konsumen, terutama di kelas menengah, beralih orientasi dengan membeli mobkas seharga Rp 100 juta ke bawah dengan tahun produksi antara 2005 ke bawah. Alternatif pilihannya kini memang sudah sangat beragam, ketimbang beberapa tahun lalu.

Menyoal mobkas yang masih laris di rentang harga Rp 100 juta ke bawah, kategori sedan diisi beberapa merek seperti Suzuki Baleno 2004 atau Toyota Soluna 2002. Kedua varian ini cukup diminati lantaran faktor maintenance, yang dianggap sebagian besar kalangan menengah tak merepotkan untuk dipelihara. Selain itu harga jual kembalinya juga tak terlampau jatuh, lantaran peminatnya masih terbilang banyak di level konsumen berpenghasilan menengah.

Makanya pedagang kini mengincar pasar di level menengah, terutama di daerah pinggiran kota macam Depok, Tangerang atau Bekasi. Pasalnya konsumen di tingkat ini memiliki porsi paling besar.

“Avanza memang masih jadi incaran calon pembeli, tapi di daerah pinggiran Jakarta peminatnya tak sebanyak tahun-tahun lalu. Mungkin karena harga bekasnya masih di rentang Rp 100 juta ke atas,” papar Bimo, pedagang dari showroom Surya Motor di Ciputat, Tangerang.

UTAMAKAN PERAWATAN

Meski pilihan mobkas seharga Rp 100 juta ke bawah diprediksi sebagian pedagang bakal lebih laris, tak menjanjikan penjualan unitnya akan laris seperti varian primadona macam Avanza atau Xenia.

Pasalnya konsumen kini lebih pintar seputar nilai penyusutan kendaraan. “Semakin tua usia mobil harganya juga semakin jatuh, meski mobil itu banyak yang nyari,” ungkap Nanda, pengguna Toyota Kijang LGX 2003.

Menurutnya, langkah bijak saat ini, terutama bagi pemilik mobil dengan tahun produksi lebih dari 5 tahun, adalah merawat sebaik mungkin besutannya itu. “Tujuannya bukan sekadar untuk menjaga agar nilai jual kembalinya tak jatuh, tapi juga untuk mencegah kemungkinan terjadinya kerusakan fatal yang ujung-ujungnya bisa menguras dana,” urai karyawan salah satu perusahaan swasta nasional di daerah Kemang, Jaksel ini.

Pertimbangan dari Nanda memang ada benarnya. Pasalnya biaya untuk perbaikan yang mencakup ongkos servis maupun harga onderdil, kini juga ikutan merangkak naik seiring krisis finansial global yang masih terjadi hingga saat ini. Tak heran kalau permintaan pasar di bursa mobkas masih stagnan.

Minggu, 03 Mei 2009 07:19

Gaya Modifikasi Mobil 2009 = Fungsional + Ekonomis

Gaya Modifikasi Mobil 2009 = Fungsional + Ekonomis
03 Mei 2009 9:00 am admin mobil

Oleh : FM. Nawitaningrum (Reporter Tabloid OTOMOTIF)

Resesi, jatuhnya kurs rupiah dan kenaikan harga, efeknya sampai ke pelaku modifikasi. Mulai akhir 2008 sampai 2009 ini, konsumen jadi lebih kritis. Modifikasi enggak sekadar ikut tren, umumnya jadi lebih efisien dan memakai skala prioritas dalam memodifikasi mobil. Pilihan aksesori dan gaya modifikasi dilakukan dengan pertimbangan fungsi dan harga. Gaya dandan seperti ini yang bakal mewarnai tahun 2009, fungsional dan ekonomis.

REPLIKA DAN SECOND

Karena masalah harga, aksesori impor asal Jepang atau Eropa hanya kini jadi pilihan sebagian kecil penggemar mobil yang tidak sensitif harga alias berkantong tebal. “Barang orisinal impor makin susah dijual, kita sediakan by order aja. Sekarang logo orisinal dari Jepang bisa sampai Rp 800 ribu, jadi enggak masuk akal. Pemakai mobil kebanyakan bakal lebih condong ke produk replika bikinan Taiwan atau second,” kata Agus Djaja Somad dari Autoline.

Pelek replika bikinan Taiwan, untuk yang baru harganya sekarang berkisar Rp 4-5 juta untuk diameter 17 inci, sampai Rp 9 juta untuk diameter 19 inci. “Karena ekonomi lagi susah, buat sebagian orang terasa mahal juga. Jadi larinya ke pelek second, harganya bisa berkurang sampai 30 persen,” bilang pemilik bengkel dan toko aksesori di Kedoya, Jakbar ini.

Untuk yang mementingkan image dan kualitas, pelek Jepang second bisa jadi pilihan. Tapi sekarang harganya juga terhitung enggak murah. Pelek Jepang bekas berdiameter 19 inci bisa sampai belasan juta juga. Untuk mengakali tingginya harga, maka modifikasi pun mesti pakai strategi efisiensi.
Artinya, mobil tetap fungsional, harga terjangkau tapi tampilan menarik. Pelek Taiwan dengan desain copy-an pelek Jepang seperti SSR, Work atau Volk Racing, bakal tetap jadi primadona. “Kalau untuk mobil kecil atau sedan, rata-rata pelek ukuran antara 17 sampai 18 inci. Pelek 20 ke atas masih dipakai, tapi untuk SUV,” jelas Agus.

Untuk modifikasi yang efisien, gaya paling tepat ya apalagi kalau enggak daily use alias simpel. Karakternya bisa saja racing atau elegan, tergantung selera dan pilihan aksesori. “Gaya racing enggak ada matinya, variasi aksesorinya banyak banget. Noblesse yang biasanya cuma bikin body kit elegan aja sekarang keluarin versi racingnya, Noblesse Pentium Sport,” papar penggemar gadget ini.

Enggak cuma pelek dan bodi kit, minimalisasi juga akan terjadi pada gaya body art seperti airbrush. Body art dengan karakter simpel akan lebih disukai, karena tidak terlalu mencolok dan bisa dipakai untuk sehari-hari.

“Tahun 2005-2007 gayanya ekstrem dengan warna-warna mencolok seperti stabilo atau scotlight. Akhir 2008 ke 2009 ini terjadi perubahan, lebih kalem. Warna-warna seperti putih mutiara, silver atau gold lebih disukai. Warna cerah seperti kuning atau oranye masih dipakai, tapi pakai xirallic jadi enggak mencolok sekali. Untuk cat bodi, seperti tahun lalu putih masih banyak disukai. Cat custom seperti bunglon yang harganya mahal itu sudah lewat masanya sejak tahun lalu,” papar Tomi dari Tomi Airbrush.

Seperti warna, perubahan gaya body art tahun ini juga terlihat pada motif atau grafisnya. Di ajang kontes modifikasi, motif ‘ramai’ seperti lidah api di berbagai bagian mobil, dengan warna-warna candy yang mencolok masih disukai karena lebih mencuri perhatian.

Tapi untuk daily use atau yang sekadar ingin terlihat beda, grafisnya cenderung simpel dengan stripping di kedua sisi bodi saja. Tampilannya tidak mencolok tapi terlihat beda, dengan kombinasi 2 warna saja atau gradasi. “Karena lebih fungsional. Mobil yang dimodifikasi masih bisa dipakai untuk harian, enggak perlu ganti mobil. Motif ekstrem juga butuh biaya lebih tinggi,” bilang seniman airbrush yang berpraktek di Pademangan, Jakut ini.

Senin, 30 Juni 2008 10:39

KPPU Diminta Awasi Promosi dan Etika Bisnis Obat

JAKARTA, SENIN - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) diminta turut mengawasi praktik promosi dan etika bisnis dalam industri obat-obatan. Hal itu merupakan salah satu rekomendasi dari diskusi KPPU bersama para pelaku industri farmasi di Gedung KPPU, Jakarta, Senin (30/6).

Senin, 30 Juni 2008 10:03

Yamaha Mio Soul Low Rider 2008 Jakarta

JAKARTA- SELASA - Johny Lipurnomo from Custom World (CW) populer dengan permainan tangannya lewat alat cat. Karyanya bertebaran 1999 – 2002. Tema inovatif selalu dihasilkan pria bertubuh bongsor ini.

Senin, 30 Juni 2008 05:40

Ini Dia Mio Baru Tandingan BeAT

JAKARTA, SELASA - Pertarungan pasar skuter bebek alias skubek semakin sengit. Terutama antara dua merek, Yamaha dan Honda yang saling menguasai pangsa pasar. Astra Honda Motor (AHM) meluncurkan BeAT untuk melawan Yamaha Mio. Merasa diserang, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia sebagai produsen Mio tidak tinggal diam.

Senin, 30 Juni 2008 05:38

Kompetisi Drifting Tak Pandang Usia

JAKARTA - Melanjutkan sukses tahun lalu, kompetisi drifting, kembali digelar 28 hingga 29 Juni lalu oleh Goodyear di Jakarta. Peserta datang dari seluruh Indonesia berusia mulai 14 hingga 45 tahun.