Pasar Mobil Bekas 2009
03 Mei 2009 10:25 am admin mobil
Oleh : Antonius Sulistyo (Reporter OTOMOTIF)
Memasuki awal semester 2009, pasar otomotif tanah air kembali dihadapkan dengan kenaikan harga mobil baru. Secara teori memang hal ini nantinya bakal berkorelasi dengan harga jual kembali di tingkat retail unit bekasnya.
Lantas, bagaimana sesungguhnya peta mobil bekas saat ini? Di bursa mobil bekas (mobkas) terdapat 3 kategori mobil, yang terbagi berdasarkan tingkat perputaran penjualan unitnya. Kategori fast moving (perputaran cepat), seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Suzuki APV Arena dan Honda All New Jazz, memiliki persentase nilai penyusutan (depresiasi) tahun pertama antara 5%-9%.
Kategori middle (perputaran sedang), seperti Toyota All New Vios, Yaris, Honda All New City dan Nissan Grand Livina, depresiasi tahun pertama sekitar 10-20%.
Di luar kedua kategori ini, sudah masuk level slow moving alias tingkat perputaran penjualannya lambat. Sekadar catatan, persentase penyusutan ini hanya diambil dari nilai kendaraannya saja (dari harga On The Road-baru), belum termasuk biaya lainnya macam BBN (Bea Balik Nama) dan administrasi jika sudah jatuh ke tangan orang kedua.
Sebagai ilustrasi, diambil banderol Toyota Avanza G 1.3L manual dengan persentase nilai penyusutan 5%. Awal Desember 2008 lalu banderol barunya masih Rp 131,85 juta (On The Road), namun per Januari 2009 price list barunya naik menjadi Rp 139,45 juta (On The Road). Jika dikalkulasi, depresiasi tahun pertama untuk Avanza tahun 2008 (Rp 131,85 juta) sekitar Rp 6,59 juta. Sementara besarnya penyusutan di tahun pertama untuk Avanza lansiran 2009 (Rp 139,45 juta) sekitar Rp 6,97 juta.
Berdasarkan ilustrasi perhitungan tadi, dapat ditarik garis merah bahwa naiknya banderol mobil baru macam Avanza G 1.3L manual, memengaruhi harga penawaran dari para pedagang di tingkat retail mobkas. Misal Avanza 2008 punya harga pasaran bekas sekitar Rp 125-126 juta. Sementara nilai jual kembali Avanza tahun 2009 dengan tipe sejenis, diprediksi bakal terbentuk di harga Rp 132 jutaan.
Meski begitu menurut Nurfitri Yanuarsyah, kepala cabang Mobil ’88 Kalimalang, Jaktim, penyusutan nilai yang dikenakan untuk Avanza sebagai mobil kategori fast moving ini, berlaku sepanjang masih terdapatnya deretan inden dari calon pembeli Avanza baru. “Selama animo pembeli masih tinggi, harga jual kembalinya juga kuat,” tandas Arsyah sapaannya.
MASA TRANSISI
Meski pemain di bursa mobkas tetap menginginkan mobil-mobil kategori fast moving tetap laris manis, umumnya dari kalangan pedagang di sektor ini menganggap kondisi saat ini masih dalam masa transisi. Artinya, memasuki awal semester 2009 ini, transaksi jual-beli diyakini belum banyak bergerak alias stagnan.
Kondisi ini lantaran dipengaruhi beberapa faktor, seperti daya beli masyarakat umumnya yang masih lemah. Hal itu diamini Nurrasyid, branch manager PT Berlian Abadua Satu (Bendi 21) di Cinere, Depok. “Penjualan memang menurun sejak November 2008 sampai sekarang. Rata-rata penurunan penjualan sekitar 50%, dan berlaku hampir di seluruh level harga mobil,” ungkap Nur, sapaan pria berpostur jangkung ini.
Prinsip yang dipegang pedagang mobkas pada umumnya, sebenarnya lebih mengutamakan kuantitas. Artinya tingkat penjualan lah yang lebih diutamakan. Berdasarkan pedoman ini, mobkas dengan permintaan paling besar yang paling banyak distok oleh mereka. Sementara harga penawaran untuk tahun-tahun yang lebih tua, mulai 2007 ke bawah, tidak banyak bergerak mengikuti kenaikan banderol mobil baru.
Menurut Nur, harga penawaran untuk mobkas tahun 2007 ke bawah, masih sama dengan kondisi sebelumnya di 2008. Artinya pedagang mobkas kini lebih berhati-hati terhadap pasar, demi memperlancar penjualan masing-masing. Meski sudah banyak lembaga leasing yang dapat dimanfaatkan calon pembeli, tetap saja faktor daya beli yang menjadi persoalan.
Kalaupun ada pedagang yang menawarkan unit seken dengan banderol lebih tinggi dari harga pasaran, bisa jadi itu merupakan kiat ambil untung sesaat. Seperti pernah diungkap Ruslan, juragan Madina Mobilindo di Jl. Margonda Raya, Depok beberapa waktu lalu.
Menurut pentolan paguyuban pedagang mobil di Depok itu, pengaruh kenaikan harga mobil baru tak serta-merta berpengaruh langsung terhadap banderol mobil seken dengan tahun produksi yang sudah punya selisih 2 tahun lebih. “Itu bisa-bisanya para pedagang mobil bekas yang nakal saja. Mereka umumnya mengaitkan kenaikan harga mobil baru kepada calon pembelinya,” kata Ruslan.
Selain daya beli masyarakat yang masih lemah, faktor suku bunga kredit mobkas yang masih tinggi juga sangat memengaruhi penjualan di sektor ini. Misal seorang konsumen hanya memiliki budget untuk membayar uang muka kredit sebesar Rp 20 juta. Sementara mobil incarannya yang seharga Rp 100 jutaan produksi tahun 2007, menuntut pembayaran total DP sekitar Rp 30 jutaan. Alhasil sang konsumen mengurungkan niatnya untuk membeli mobil yang diinginkan, meski bisa membeli secara kredit melalui leasing.
Rp 100 JUTA KE BAWAH
Tak heran jika banyak konsumen, terutama di kelas menengah, beralih orientasi dengan membeli mobkas seharga Rp 100 juta ke bawah dengan tahun produksi antara 2005 ke bawah. Alternatif pilihannya kini memang sudah sangat beragam, ketimbang beberapa tahun lalu.
Menyoal mobkas yang masih laris di rentang harga Rp 100 juta ke bawah, kategori sedan diisi beberapa merek seperti Suzuki Baleno 2004 atau Toyota Soluna 2002. Kedua varian ini cukup diminati lantaran faktor maintenance, yang dianggap sebagian besar kalangan menengah tak merepotkan untuk dipelihara. Selain itu harga jual kembalinya juga tak terlampau jatuh, lantaran peminatnya masih terbilang banyak di level konsumen berpenghasilan menengah.
Makanya pedagang kini mengincar pasar di level menengah, terutama di daerah pinggiran kota macam Depok, Tangerang atau Bekasi. Pasalnya konsumen di tingkat ini memiliki porsi paling besar.
“Avanza memang masih jadi incaran calon pembeli, tapi di daerah pinggiran Jakarta peminatnya tak sebanyak tahun-tahun lalu. Mungkin karena harga bekasnya masih di rentang Rp 100 juta ke atas,” papar Bimo, pedagang dari showroom Surya Motor di Ciputat, Tangerang.
UTAMAKAN PERAWATAN
Meski pilihan mobkas seharga Rp 100 juta ke bawah diprediksi sebagian pedagang bakal lebih laris, tak menjanjikan penjualan unitnya akan laris seperti varian primadona macam Avanza atau Xenia.
Pasalnya konsumen kini lebih pintar seputar nilai penyusutan kendaraan. “Semakin tua usia mobil harganya juga semakin jatuh, meski mobil itu banyak yang nyari,” ungkap Nanda, pengguna Toyota Kijang LGX 2003.
Menurutnya, langkah bijak saat ini, terutama bagi pemilik mobil dengan tahun produksi lebih dari 5 tahun, adalah merawat sebaik mungkin besutannya itu. “Tujuannya bukan sekadar untuk menjaga agar nilai jual kembalinya tak jatuh, tapi juga untuk mencegah kemungkinan terjadinya kerusakan fatal yang ujung-ujungnya bisa menguras dana,” urai karyawan salah satu perusahaan swasta nasional di daerah Kemang, Jaksel ini.
Pertimbangan dari Nanda memang ada benarnya. Pasalnya biaya untuk perbaikan yang mencakup ongkos servis maupun harga onderdil, kini juga ikutan merangkak naik seiring krisis finansial global yang masih terjadi hingga saat ini. Tak heran kalau permintaan pasar di bursa mobkas masih stagnan.