Mengeksploitasi Pajero Sport, SUV baru Mitsubishi Lekukan bodi yang dinamis
04 April 2010
Mengeksploitasi Pajero Sport, SUV baru Mitsubishi
Lekukan bodi yang dinamis
First Drive
- "Sayang ya, kok image double cabinnya kuat sekali." Begitu bilang
seorang teman melalui telepon saat melihat tampilan Pajero Sport Exceed
di Kompas.com. Diakui oleh Direktur Pemasaran KTB Rizwan Alamsjah kalau
medium SUV yang baru dari Mitsubishi ini platformnya memang Strada
Triton. Malah Eichi Kaito, salah satu jajaran direksi KTB menegaskan
kalau mulai dari depan Pajero Sport sampai kursi baris kedua masih sama
persis dengan Triton.
Justru kekuatan image itu membuat PT Krama
Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) selaku produsen Mitsubishi di Indonesia
yakin Pajero Sport bakal mengikuti kesuksesan Strada Triton. Apalagi
SUV yang disodorkan ke pasaran ini memiliki 7 kursi penumpang.
Dilengkapi INVECS dan Triple M
Tak
cuma itu, Pajero Sport sebagai premium Sport Utility Vehicle (SUV) bisa
dipakai sebagai kendaraan keluarga untuk berbagai aktivitas, menjadi
partner dalam bisnis dan diajak menyalurkan hobi merambah trek
off-road. Jadi, sesuai dengan konsepnya sebagai kendaraan all round.
Tampilan
eksterior, terutama depan tak ada yang menguburkan ciri dari Strada
Triton Exceed D-Cab. Hanya lebih mewah dan modern dipadu fender yang
berotot, lekuk bodi yang dinamis, di atas atap ada roof rail serta
footstep (Pijakan kaki).
Untuk interior, sedikit terkesan mewah
dengan paduan balutan kulit warna Ageige dengan wooden Print panel,
ditambah pada dasbord (bagian tengah dasbors) terdapat Multi Mode
Meter. Suatu peralatan dengan layar menitor kecil yang diletak di
bagian tengah dasbord. Fungsinya memberikan berbagai informasi mengenai
kondisi di sekitar mobil.
Sementara mesin, masih mengusung model
yang sudah lebih dulu dipakai Strada Triton. Yakni, 2.5 liter
intercooler Turbocharger DOHC Cammon-Rail yang dipasang pada strada
Triton Pajero Sport tipe Exceed MT 4x4, GLX MT 4x4 dan Exceed AT 4x2.
Tenaga maksimal yang dihasilkan 136 hp dengan torsi 314 Nm
Trus,
untuk yang 4WD dilengkapi dengan Super Select. Jadi, pengoperasiannya
bisa sambil kendaraan jalan sampai batas kecepatan yang tidak tinggi.
Teknologi ini juga ada pada New Ford Ranger yang baru di launching Mei
ini juga.
Kalau pengemudi bosan dengan transmisi otomatis bisa
dipindahkan ke sistem manual. Hal itu memungkinkan karena pada Pajero
Sport ini dilengkapi INVECS II. Semacam Tiptronic yang di antaranya
dipakai di Audi, BMW, Mazda atau PowerShift pada Ford serta X-tronic di
Nissan X-Trail.
Jaga tenaga bawah
Untuk meyakinkan
ketangguhan dan kenyamanan Pajero Sport, KTB memberi dua sesi test
drive. Pertama, Kompas.com disetiri pereli kawakan dari Jepang, Hiroshi
Matsuoka yang memakai transmisi manual. Kami diajak mengitari trek reli
(jalanan bertanah) sepanjang 2,2 km di kawasan Mandala Pratama Permai
Industri Estate di Dawuan, Cikampek.
Mantan juara reli
Paris-Dakar itu tampak tidak ragu-ragu menguras tenaga mesin. Bahkan
ketika manuver di tikungan, tingkat keolengan bodi sangat rendah.
Termasuk juga goyangan bodi kala meliuk-liuk di tikungan "S", sekalipun
bagian belakang bodi sedikit sliding.
"Suspensinya sangat kuat
dan handlingnya tajam," jelas Matsuoka. Ia mengatakan ada teknologi
dari Pajero yang diriset dan dikembangkan melalui ajang reli terganas
"Paris-Dakar" terpasang pada Pajero Sport ini.
Penasaran,
Kompas.com pun membuktikan kebenaran ucapan Matsuoka soal kenyamanan
itu dalam first drive, tapi bukan di trek reli, melainkan lintasan
aspal. Saat meliuk-liuk di jajaran kun dengan kecepatan 40 km/jam,
memang gejala body rolling kecil sekali. Begitu juga menghajar lubang
yang lebar tapi tidak dalam, goncangan sangat kecil.
Kemudian,
dalam jalur test drive itu disediakan trek untuk pengereman mendadak.
Ketika dilakukan dengan kecepatan 80 km/jam, mobil berhenti
meninggalkan jarak tidak lebih dari 20 meter. Penasaran, kecepatan
ditingkatkan menjadi 100 km/jam, penambahan jarak tidak sampai dua kali
lipat. Ini berkat sistem penghenti laju memakai ABS yang dilengkapi
dengan EBD.
Hanya, tenaga bawah mesin perlu dijaga karena untuk
mendapatkan akselerasinya butuh waktu. Ini yang Kompas.com rasakan
ketika bersama Matsuoka. Ia menjaganya dengan dua cara. Pertama,
mengerem sedekat mungkin pakai kaki kiri (left foot brake) atau tetap
dengan kaki kanan, tapi kelima jari kaki di pedal kopling sedang
tumitnya di pedal gas. Dengan begitu setiap ke luar tikungan selalu
mendapat tenaga.
Nah, ketika Kompas.com dengan transmisi
otomatis coba mendapatkan tenaga itu memainkan INVECS. Jadi, terasa
tenaga turun, untuk mendongkraknya, tongkat transmisi dipindahkan ke
manual. Dan begitu tenaga sudah didapat, segera pindahkan lagi ke "D".
Sumber : KOMPAS.COM/BASTIAN